Tuesday, July 5, 2011

Mampukah Kita Merobohkan “Tembok” Buatan Kita Sendiri?


Dalam hidup, tidak jarang kita mengalami kegagalan. Kita memiliki cita-cita dan harapan, dan bersusah payah untuk mencapainya. Namun ternyata tidak berhasil. Kecewa? Sedih? Sakit hati? Semua itu wajar kita rasakan. Tapi apakah kita harus larut dalam kekecewaan itu? Tentu saja tidak. Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas kegagalan yang kita alami. Dengan menyalahkan diri sendiri, tanpa kita sadari, kita telah menciptakan “tembok” dan menutup peluang untuk maju.

             “Tembok” yang kita ciptakan membatasi kita untuk membuka diri dan bergaul dengan orang lain. Mungkin kita sudah nyaman dengan lingkungan di mana kita berada. Memiliki teman-teman yang sepemikiran, senasib, dan sepenanggungan. Bertukar pikiran dan berbagi suka maupun duka. Tetapi apakah kita mampu keluar dari zona nyaman kita dan meleburkan diri dengan lingkungan luar yang jauh berbeda?

            Ada seorang mahasiswi yang pintar dan selalu mendapatkan IPK di atas 3,5 bahkan 4. Ia mempunyai cita-cita untuk lulus dengan IPK terbaik dan bekerja di perusahaan yang bagus. Ia fokus dan berusaha keras untuk mencapai cita-citanya tersebut. Tapi ia melupakan satu hal bahwa dia tidak hidup sendirian. Dalam kerja kelompok, dia selalu berusaha untuk menjadi pemimpin dan mengatur segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya tanpa mendiskusikan terlebih dahulu dengan teman-teman sekelompoknya. Fokusnya adalah mendapatkan nilai yang terbaik tanpa mempedulikan perasaan teman-temannya. Dia telah menciptakan “tembok”-nya sendiri dan menutup peluang untuk berhubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya. Mungkin dia bisa lulus dengan IPK terbaik dengan usahanya sendiri, tapi tidak semua hal bisa kita capai sendiri. Suatu saat kita akan memerlukan bantuan dari orang lain. Ingat kan kalau kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian dan selalu membutuhkan pertolongan orang lain? Kecuali kalau kita mau hidup di tengah hutan seperti Tarzan... Tapi itu kan hanya cerita fiktif belaka hehehe...

            Ada lagi nih contoh “tembok” yang lain. Ketika di kantor, kita yang biasanya dipuji-puji orang sebagai pekerja keras, termasuk orang yang diperhitungkan atasan, memiliki jabatan yang bagus, dan dihormati bawahan. Suatu saat mengalami restrukturisasi dan tidak lagi mempunyai posisi penting dalam perusahaan. Tidak adil memang. Dalam hati ingin berteriak memaki-maki atasan. Tapi apakah setelah memaki-maki akan ada perubahan? Apakah dengan larut dalam kemarahan dan kekecewaan, ketidakadilan berubah menjadi keadilan? Kita hanya bisa menelan ketidakberdayaan kita. Kekecewaan yang mendalam terhadap kebijakan atasan juga bisa menjadi  “tembok” bagi kita untuk mengembangkan diri. Ayo kita hancurkan “tembok” itu dan membuka peluang untuk berkembang dan mencapai kesuksesan!

            Dalam hal menjalin hubungan dengan lawan jenis. Kita berharap untuk bisa langgeng dalam hubungan kita bahkan kalau bisa sampai tahap pernikahan. Kalau kata Sheila On 7:

 “...kita lawan bersama dingin dan panas dunia, saat kaki tlah lemah kita saling menopang, hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati, sampai jumpa di kehidupan yang lain...”

Namun ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Hubungan yang sudah terjalin cukup lama harus berakhir karena masalah tertentu. Waktu pacaran, kata-kata yang terucap semanis madu. Setelah putus menjadi seketus kaktus. Apakah perlu seperti itu? Apakah setelah tidak lagi berstatus pacaran hubungan satu sama lain harus menjadi kaku dan canggung? Bukankah berteman jauh lebih baik? Tidak perlu menyebut si dia “mantan pacar” kita. Dengan menyebut dia mantan, kita secara tidak sadar sudah membuat “tembok” dan menutup kemungkinan untuk bisa kembali menjalin hubungan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti dan apa yang Tuhan kehendaki atas kita, bukan?

            Jangan takut atau malu untuk mengakui kegagalan kita di depan orang lain. Kegagalan bukanlah suatu dosa. Bukankah Tuhan bersabda: “"Marilah kepadaKu, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat 11:28). Jika kita memandangnya dari sisi positif, maka kegagalan hanyalah kerikil kecil dalam suatu perjalanan panjang. Bukankah melalui kegagalan kita dapat belajar untuk lebih bijaksana dan kuat menghadapi tantangan yang lebih besar?

            Maka, sediakan waktu sebentar saja untuk kecewa dan sedih (jika merasa perlu!), tapi sediakan waktu yang jauh lebih banyak untuk bangkit dan memulai langkah yang baru. Better stop crying and start trying! Good luck :)

N.B : note yang di tag oleh teman saya, Yohana Tika Agustina.

No comments:

Post a Comment